24. reroncen kembang kertas
reroncen kembang kertas
angin datanglah hembusmu menelusup rongga jiwa
bawakan saja secarik kertas dan pena tajam
biar tertulis tebal penemuan ini
dalam sahaja
karena carik langkah
telah menembus rahasia malam
bagian tergelap dari sebuah pemahaman panjang
tentang pemaknaan keyakinan yang harus diperjuangkan
kemarin ketika randu menggugurkan kelopak kembangnya
sepasang kepodang bergandeng terbang menukik
menyatukan sepadan rasa bersama
pada utas pelangi
hari ini di sini
seonggok jagung apek melapuk
setelah bermusim menungu hujan yang selalu pura-pura ketuk pintu
melupakan angan-angan yang sempat digambarkan di tiap ketiak ruas batangnya
kemudian angin benar-benar datangkan hembusnya yang paling lembut
menyeret carik kertas kosong tepat di pergelangan tangan kiri
kemudian berhenti dan mencoret-coretkan penanya
dengan huruf-huruf mati
kemana penghembus kata pergi
tanpanya lembar-lembar tak lagi bisa dipahami
nglangut dan serba tak tentu seperti ceceran debu di padang kerontang
perdu terkecilpun hanya menyisakan ranting batang dan akar serabut yang mulai kering pula
tiba-tiba mendung datang menyelipkan kelambaban pada cerukan comulus
seperti membawa janji yang dinyanyikan kepodang kemarin
seolah angan-angan menemukan jalan pulang
untuk segera melepas rindu
benarlah, hujan pun turun
tak lagi berbasa-basi menumpahkan bukti
agar segera terbaca setiap coretan yang ditinggalkan kemarau
dan tak ada lagi reroncen kembang kertas menghiasi pagar-pagar perkampungan
angin sejuk datang membawa kertas kosong terbuka dan pena yang telah terasah tajam
namun sang seniman masih juga mencari-cari penghidup kata
penemuan dari pemahaman yang pura-pura
ia pun tak percaya
kemudian malam datang
sang seniman masih mencari penghidup kata
dilipatnya kertas satu per satu menjadi bunga-bunga puisi
dan dironce menggantung di atas pintu gudang tempat seonggok jagung menunggu :
matahari
ckc : 0908 mn
angin datanglah hembusmu menelusup rongga jiwa
bawakan saja secarik kertas dan pena tajam
biar tertulis tebal penemuan ini
dalam sahaja
karena carik langkah
telah menembus rahasia malam
bagian tergelap dari sebuah pemahaman panjang
tentang pemaknaan keyakinan yang harus diperjuangkan
kemarin ketika randu menggugurkan kelopak kembangnya
sepasang kepodang bergandeng terbang menukik
menyatukan sepadan rasa bersama
pada utas pelangi
hari ini di sini
seonggok jagung apek melapuk
setelah bermusim menungu hujan yang selalu pura-pura ketuk pintu
melupakan angan-angan yang sempat digambarkan di tiap ketiak ruas batangnya
kemudian angin benar-benar datangkan hembusnya yang paling lembut
menyeret carik kertas kosong tepat di pergelangan tangan kiri
kemudian berhenti dan mencoret-coretkan penanya
dengan huruf-huruf mati
kemana penghembus kata pergi
tanpanya lembar-lembar tak lagi bisa dipahami
nglangut dan serba tak tentu seperti ceceran debu di padang kerontang
perdu terkecilpun hanya menyisakan ranting batang dan akar serabut yang mulai kering pula
tiba-tiba mendung datang menyelipkan kelambaban pada cerukan comulus
seperti membawa janji yang dinyanyikan kepodang kemarin
seolah angan-angan menemukan jalan pulang
untuk segera melepas rindu
benarlah, hujan pun turun
tak lagi berbasa-basi menumpahkan bukti
agar segera terbaca setiap coretan yang ditinggalkan kemarau
dan tak ada lagi reroncen kembang kertas menghiasi pagar-pagar perkampungan
angin sejuk datang membawa kertas kosong terbuka dan pena yang telah terasah tajam
namun sang seniman masih juga mencari-cari penghidup kata
penemuan dari pemahaman yang pura-pura
ia pun tak percaya
kemudian malam datang
sang seniman masih mencari penghidup kata
dilipatnya kertas satu per satu menjadi bunga-bunga puisi
dan dironce menggantung di atas pintu gudang tempat seonggok jagung menunggu :
matahari
ckc : 0908 mn
Komentar